Suap-Suapan

Oleh: M Riza Pahlevi

Suap, memiliki beberapa macam arti. Kalau dalam ajang pernikahan, biasanya ada acara suap-suapan antara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Yang disuapkan tentunya makanan khas, yang biasa disebut adep-adep atau nasi kuning. Aksi ini banyak disaksikan orang dan biasanya juga diabadikan dalam foto maupun video. Acara ini merupakan salah satu momen yang menarik dalam ajang pernikahan tersebut.
Kemudian, seorang anak yang sedang belajar makan, pasti akan disuapi orang tuanya. Betapa susahnya menyuapi anak yang susah agak susah makan. Bahkan kadang-kadang orang tua sampai “menjagal” sang anak agar mau disuapin makan. Yang disuapkan kepada anak tentunya makanan, bisa nasi atau bubur yang berfungsi untuk pertumbuhan anak. Bahkan kalau sang anak itu susah makan, biasanya orang tua menyuapinya dengan suplemen makanan atau vitamin lainnya.
Begitu pula dengan anak muda yang sedang dimabuk asmara. Kadang saat makan atau minum berdua, juga ada keromantisan yang muncul, suap-suapan. Suap-suapan itu kadang diartikan sebagai bentuk romantisme insan yang sedang dimabuk cinta. Bahkan saking romantisnya, ketika salah menyuapkan masih tetap saja dianggap enak. Padahal yang disuapkan ternyata tai kucing, tapi sang kekasih menyatakan rasanya coklat. Itu suap-suapan di kalangan anak muda yang mabuk asmara.
Lain lagi dengan suap yang satu ini, biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan di tempat yang rahasia, atau di tempat yang ramai untuk menyamarkan aksinya itu. Juga tidak ada kamera atau alat untuk merekam momen yang satu ini. Biasanya dilakukan dua orang atau lebih, yang mempunyai kepentingan yang sama. Sama-sama mencoba meraih untung dalam suatu kegiatan atau pun proses. Tentunya, yang disuapkan pun berbeda, bukan makanan atau minuman. Biasanya berupa lembaran-lembaran kertas, yang berisi angka-angka, dengan nol di belakangnya yang berderet-deret. Di depannya juga ada lambang Rp atau $, yang bisa digunakan untuk bertransaksi jual-beli barang.
Padahal kan bentuknya kertas, tapi kok ya mau saja orang yang disuap itu. Terus yang menyuap juga mungkin tak pernah mempunyai anak kecil. Kalau yang mestinya disupain itu makanan atau minuman, bukan kertas apalagi uang. Lagian dilihat dari kesehatan, uang kertas itu kotor, banyak mengandung kuman penyakit. Jika disuapkan kepada anak kecil, termasuk orang dewasa, bisa menimbulkan penyakit. Karena uang itu tidak pernah dicuci, kotor dan sering berpindah tangan, ratusan bahkan ribuan tangan yang pernah memegangnya. Jadi tidak steril, jadi tidak baik uang itu disuapkan kepada orang, baik anak kecil maupun orang dewasa.
Tetapi nyatanya, yang disuap itu justru merasa senang. Mereka yang menyuap pun merasa lega, karena berhasil menyenangkan yang disuap. Aksi suap-suapan ini, biasa dilakukan untuk memperlancar suatu proses, yang seharusnya dilakukan dengan ebrsaing secara fair. Namun karena ada pihak-pihak tertentu, yang tidak mau fair, minta dimenangkan. Caranya, ya dengan menyuap tadi, menyuap orang yang mempunyai kewenangan untuk mennetukan pemenang dalam suatu kegiatan.
Dalam sepak bola misalnya, yang disuap biasanya wasit yang mempunyai keputusan di lapangan. Sedangkan yang menyuap, merupakan salah satu tim yang bakal bertanding. Sementara dalam pemerintahan, praktek suap-suapan bisa dilakukan antar oknum di pemerintah, baik did aerah maupun di pusat. Atau juga bisa dilakukan oleh oknum pengusaha kepada oknum pemerintah. Misalnya saat ada proyek pembangunan dengan nilai miliaran, pengusaha berusaha untuk memenangkan proyek itu, lantas menyuaplah kepada pejabat yang mempunyai proyek itu.
Di antara petugas penegak hukum pun, praktek suap-menyuap ini juga tak luput. Mereka yang berhadapan dengan hukum, ada yang berupaya menyuap kepada petugas, agar kasusnya tak diproses. Begitu pula sebaliknya, ada petugas yang minta disuap dengan keras alias pemerasan agar tidak memproses kasus yang menimpa seseorang tersebut.
Tapi ingat, aksi ini tidak legal secara hukum. Ini termasuk dalam praktek korupsi. Sudah banyak tersangka suap yang ditangkap, baik oleh polisi, jaksa maupun KPK. Mulai dari anggota DPR, menteri, gubernur, bupati, hingga masyarakat biasa. Para pelaku suap ini harus siap mendekam di balik jeruji besi. Terakhir, pejabat di Kementerian Pemuda dan Olahraga, tertangkap saat menerima suap. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai miliaran rupiah.
Yang juga harus diingat, bagi yang masih percaya dengan agama dan Tuhan, bahwa pelaku suap dan yang disuap, semuanya masuk neraka. Tidak percaya? Coba saja, kalau tidak neraka, ya penjara! Wong penjara saja, katanya kayak di neraka. Apalagi di neraka betulan. (*)

Komentar

Postingan Populer