Harap-Harap Cemas

Oleh: M Riza Pahlevi

Siswa-siswi kelas XII SMA, SMK maupun MA, saat ini sedang harap-harap cemas. Ya, karena pada Senin (16/5) besok mereka bakal menerima pengumuman kelulusannya. Mereka yang dinyatakan lulus, tidak hanya berdasarkan nilai Ujian Nasional (UN) saja, tapi juga pembelajaran di sekolah. Sehingga meskipun nilai UN-nya rata-rata di atas 5,5 dan tidak ada nilai di abwah 4, tetap kemungkinan ada yang tidak lulus.
Secara nasional, ada 11 ribu lebih siswa kelas XII yang tidak lulus. Tapi yang paling sedikit ada di Provinsi Bali, yang hanya 10 siswa saja yang tidak lulus. Sementara di NTT, diketahui paling banyak. Bagaimana dengan di daerah Kabupaten Brebes, Tegal dan Kota Tegal? Tunggu saja besok. Yang jelas tidak 100 persen lulus, alias ada yang tidak lulus.
Meski sebagian besar dikatakan lulus, namun mereka tetap saja harap-harap cemas. Karena dari sekian ribu peserta, pasti ada yang tidak lulus. Ini yang membuat mereka hrap-harap cemas, lulus atau tidak. Tetapi mereka harus tetap optimis, mereka bisa lulus dari ujian yang satu ini. UN selama ini dianggap sebagai hantu yang bergentayangan, yang bisa merasuki semua siswa kelas XII. Membuat stress yang akan mengikutinya, hingga terjebak pada kunci jawaban palsu. Bahkan ada joki yang tertangkap saat mengikuti UN.
Harap-harap cemas ini, bukan hanya dialami siswa kelas XII saja. Sebagian orang tua siswa juga mengalami hal serupa. Apakah anaknya lulus atau tidak dan bagaimana nasib pendidikannya ke depan kalau sampai tidak lulus. Sungguh peristiswa yang menjadikannya harap-harap cemas.
Bagi petugas keamanan, khususnya aparat kepolisian, pengumuman kelulusan UN ini juga bisa menjadi harap-harap cemas. Apakah susana akan tetap kondusif atau tidak. Karena biasanya, setelah pengumuman berlangsung, sejumlah siswa melakukan aksi tak terpuji. Seperti konvoi, corat-coret baju, sampai tindakan asusila. Tentu ini menjadi tugas aparat kepolisian, agar euforia kelulusan tidak menajdikan siswa melakukan pelanggaran hukum. Dan aparat kepolisian, pastinya sebelumnya jugsa sudah menghimbau kepada semua sekolah untuk tidak melakukan hal-hal seperti tersebut.
Lantas bagaimana dengan sekolah, khususnya para kepala sekolah? Mereka yang sebelumnya telah menandatangani fakta integritas selama penyelanggaran Ujian Nasional, juga berharap-harap cemas. Apakah sekolahnya bisa meluluskan 100 persen atau tidak? Apakah siswa dan dewan gurunya telah bekerja sesuai dengan fakta integritas tersebut atau tidak. Tentunya semuanya akan dipertaruhkan pada Senin, 16 Mei besok.
Bagi sekolah, prestasi kelulusan UN juga menjadi pertaruhan pada pelaskanaan Penerimaan Siswa baru (PSB) di awal tahun ajaran abru nanti. Semakin tinggi atau 100 persen lulus, maka itu menjadi salah satu posisi tawar dalam merekrut calon siswa baru. Kalau banyak siswanya yang tidak lulus, maka sekolah akan malu. Begitu pula dengan calon siswa, tentunya akan berpikir ulang untuk belajar di sekolah tersebut.
Dengan diberlakukannya Ujian Nasional, sepertinya sekarang ini menjadi satu-satunya tujuan sekolah. Bukan prestasi atau kualitas lulusan yang harus dibenahi, tetapi bagaimana agar siswa-siswinya bisa lulus 100 persen. Kalau dulu sering diduga ada kecurangan selama pelaksanaan UN, baik dengan memberi kuci jawaban atau pun dengan membantu siswa selama mengerjakan UN. Namun semaunya itu sulit dibuktikan. Kini, UN 2011 dilakukan dengan penjagaan yang cukup ketat. Antara lain dengan membuat lima jenis soal yang berbeda.
Dinas Pendidikan sebagai instansi yang bertanggung jawab sebagai pelaksana pendidikan pun juga harap-harap cemas. Apakah prestasi seluruh sekolah yang ada di bawah naungannya bisa meluluskan 100 persen atau tidak. Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten atau Kota, tentunya akan menajdi kebanggan di tingkat provinsi. Bahwa dinasnya telah berhasil, yang dibuktikan dengan tingginya angka dan persentasi kelulusan.
Kita, masyarakat yang peduli dengan pendidikan, juga harap-harap cemas dengan pelaksanaan UN sekarang ini. Apakah kualiats pendidikan kita akan naik atau justru semakin turun. Yang penting nilai UN di atas 4 dan rata-rata minimal 5,5. Sementara nilai yang lain, seperti akhlak dan kepribadian disisihkan, karena tak pernah diikutkan dalam UN. Harap-harap cemas! (*)

Komentar

Postingan Populer