Potensi Kuliner di Brebes

Dalam Sejarah Mentalitas Brebes (2009:22) disebutkan bahwa watak orang Brebes adalah gong pecah tinabuh, yang berarti sebuh gong walaupun sudah pecah masih saja dipukul dan ditabuh. Lambang ini menggambarkan bahwa Brebes adalah daerah yang telah terpecah-pecah dan perlu diperbaiki agar supaya lebih berfaedah dan bermanfaat bagi negara. Di sisi lain, pengertian gong pecah tinabuh itu diartikan secara positif, di mana perumpamaan gong pecah tinabuh itu menunjukkan bahwa masyarakat Brebes sangat menghargai gong itu, baik sebagai perangkat musik maupun pusaka.
Hal itu menjelaskan bahwa masyarakat Brebes cenderung berperilaku efisien dan efektif. Artinya gong pecah itu masih lumayan daripada tidak ada sama sekali. Pada hakekatnya, ungkapan gong pecah tinabuh itu identik dengan ungkapan tiada rotan, akar pun jadi. Pelogosan gong pecah tinabuh dan penabuan sungai Pemali diharapkan akan membangun etos masyarakat Brebes menambal segala kekurangan nenek moyangnya. Perkembangan mitos menjadi logos merupakan suatu kemajuan karena di kemudian hari akan menjadi etos. Etos merupakan watak khas yang dipancarkan oleh suatu kebudayaan. Dengan kondisi masyarakat yang tercatat dalam mitos tersebut, maka pengaruh dalam kehidupan sekarang pun masih ada. Khususnya terkait dengan etos kerja, yang pantang menyerah.
Semangat kerja masyarakat Brebes yang pantang menyerah ini bisa dilihat dari usaha yang mereka lakukan. Mulai dari pertanian, perdagangan dan lainnya. Di bidang pertanian misalnya, betapa masyarakat tidak pernah putus asa dengan komoditas bawang merah. Karena bawang merah merupakan produk unggulan yang tidak bisa ditinggalkan dari keberadaan masyarakat Brebes. Begitu juga dengan telur asin, yang menjadi produk unggulan di Kabupaten Brebes.
Dalam bidang perdagangan pun demikian, semangat mereka tetap besar. Contoh saja dalam bidang jasa makan atau warung makan, mereka bisa tetap eksis, termasuk yang berada di Jakarta. Keberadaan warung Tegal (warteg), sebenarnya tidak melulu orang-orang Tegal saja, tapi sebagian dari mereka berasal dari Brebes. Namun karena nama warteg lebih dulu terkenal, maka pemilik warung asal Brebes pun tetap menggunakan warteg. Tapi realita itu tidak bisa menapikan keberadaan para pelaku usaha asal Brebes yang eksis di bidang tersebut.
Para pelaku usaha di bidang makanan pun yang menetap di Brebes pun juga eksis. Bahkan di antara mereka dengan kepercayaan dirinya yang besar, tetap menjadikan lokasi usahanya berada di kampung halamannya. Selain sebagai ciri khas, dengan menempati lahan atau rumah milik sendiri, otomatis modal usaha yang dikeluarkan lebih sedikit. Sehingga keuntungannya pun lebih banyak.
Bahwa potensi di bidang usaha makanan atau kuliner ini, merupakan salah satu potensi yang sangat besar. Seperti disebutkan dalam latar belakang masalah di atas, bahwa kuliner saat ini menjadi salah satu potensi wisata yang potensial. Apalagi dengan letak geografis dan budaya yang ada di masyarakat Brebes. Dalam laporan akhir tahun yang dibuat Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Brebes tahun 2009, tentang identifikasi potensi pariwisata belum menggali secara maksimal potensi wisata kuliner yang ada di Kabupaten Brebes. Dalam laporan tersebut, hanya sepintas saja dibahas sejumlah wisata yang ada.
Bahkan keberadaan telur asin dan bawang merah, yang menjadi trade mark Brebes pun tidak dibahas secara khusus dalam laporan tersebut. Hanya disebut secara sekilas saja, itu pun tidak mencakup daerah-daerah mana saja sebagai sentra telur asin dan bawang merah. Belum lagi masalah variasi dan temuan yang sudah berkembang di masyarakat. Dari 17 kecamatan yang dilaporkan, potensi wisata kuliner hanya menyebut beberapa rumah makan besar, yang sebagian merupakan jaringan rumah makan besar di Indonesia. Sementara kekhasan makanan yang dijual pun tidak diperjelas secara rinci, apa kelebihan dan ciri khasnya.
Belum Tergali Secara khusus, penelitian yang berkaitan dengan wisata kuliner di Kabupaten Brebes belum ada. Dalam laporan akhir tahun 2009 tentang identifikasi potensi pariwisata di Kabupaten Brebes yang dibuat Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga hanya disinggung sedikit tentang wisata kuliner. Dalam laporan tersebut, wisata kuliner hanya menjadi wisata pendukung dari sejumlah obyek wisata yang ada. Itu pun lokasinya sebgian besar tidak berada di tempat wisata yang ada di Kabupaten Brebes. Hanya beberapa yang menyatu dengan kompleks wisata, seperti di Pantai Randusanga Indah. Di situ ada makanan sea food yang sudah terkenal dengan kunikan dan kakhasan serta kenikmatan tersendiri.
Bahwa wisata kuliner sebagai tujuan wisata utama belum dijadikan alternatif wisata di Kabupaten Brebes. Keberadaan telur asin dan bawang merah sebagai produk unggulan di Kabupaten Brebes juga tidak dibahas secara khusus. Apa kelebihan dan keunikan produk unggulan tersebut dibanding dengan daerah lainnya. Padahal produk unggulan tersebut memiliki kelebihan dan keunikan dibanding dengan daerah lain. Bandeng presto, yang juga menjadi salah satu unggulan, juga sama sekali tidak disebutkan.
Sementara di bagian lain dalam laporan tersebut, wisata kuliner hanya beberapa rumah makan dengan makanan khasnya saja. Tidak dijelaskan secara detail, apa kekahasan makanan yang dijual dalam rumah makan tersebut. Itu pun hanya rumah makan yang sebagian besar berada di jalur utama . seperti jalur Pantura, jalan provinsi dan kabupaten. Padahal wisata kuliner di Kabupaten Brebes bisa mencapai ratusan jenis, mulai dari makanan, cemilan hingga jajanan yang tidak dijumpai di daerah lain.
Sementara dalam buku yang diterbitkan Bappeda tahun 2004, yang berjudul Brebes Tempo Dulu dan Benda-Benda Cagar Budaya Kabupaten Brebes, juga sempat disinggung sejumlah makanan dan jajanan khas. Namun itu hanya sebatas penyebutan nama-nama makanan tradisional saja, tanpa ada penjelasan lebih rinci terkait makanan khas tersebut. Hanya berkisar bahan bakunya sa, tidak dijelaskan secara rinci, bagaimana makanan khas tersebut, dimana dan bagaimana mengolahnya dan akhirnya menjadi makanan khas Brebes.
Selain makanan tradisional, juga disebutkan beberapa makanan populer yang sudah ada sejak dulu, seperti sate dan soto. Itu pun tidak dijelaskan secara rinci, sampai sejauh mana makanan populer tersebut bisa menjadi daya tarik tersendiri, sehingga bisa menjadi alternatif wisata kuliner. Beberapa buku yang membahas masalah makanan dan kuliner cukup banyak. Namun yang khusus membahas wisata kuliner di Kabupaten Brebes tidak ada sama sekali.
Dari beberapa buku yang menyediakan informasi lengkap tentang makanan yang ada di satu daerah, seperti tulisan Dwi Lestari, yang berjudul Peta Lengkap Wisata Kuliner di Jogja-Solo (2009) terbitan Ekspresi Jogjakarta. Kemudian Dwi Lestari juga menulis sebuah buku lagi, dengan tema yang sama, yakni Peta Lengkap Wisata Kuliner di Semarang (2009) terbitan Ekspresi Jogjakarta. Dalam kedua buku tersebut, tersaji secara lengkap peta wisata kuliner yang ditemukan. Mulai dari nama warung dan pemiliknya, kekahasan dan kelebihan dibandingkan dengan kuliner di tempat lain, hingga patokan harga yang diberikan pemilik per porsinya. Apakah Pemkab Brebes mempunyai perhatian masalah ini? Silakan nilai sendiri. (*)

Komentar

Postingan Populer