Menyongsong Hari Santri Nasional


Tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani Presiden Jokowi pada Kamis, 15 Oktober 2015. Meski ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, namun bukan sebagai hari libur nasional. Sejumlah persiapan pun dilakukan, khususnya dari kalangan Nahdlatul Ulama, untuk menyongsong Hari Santri Nasional. Antara lain Kirab Resolusi Jihad NU yang berlangsung dari tanggal 18 Oktober hingga 22 Oktober, dari Surabaya menuju Jakarta.
Merujuk pada sejarah, Hari Santri ini berdasarkan pada peristiwa sejarah keluarnya Resolusi Jihad NU oleh KH Hasyim Asyari untuk melawan penjajah Belanda yang mencoba masuk kembali ke Indonesia. Resolusi Jihad ini pula yang menjadi dasar dari peristiwa 10 November di Surabaya, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Dengan adanya Resolusi Jihad membuktikan adanya perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah. 
Ditetapkannya Hari Santri ini semakin menegaskan keberadaan santri dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Betapa tidak, selama ini istilah santri hanya muncul di kalangan masyarakat tertentu saja yang mengenalnya. Sementara di lingkungan pemerintah, bahkan dalam buku sejarah, istilah santri tidak pernah muncul dalam sejarah perjuangan bangsa. Padahal peran mereka sangat besar dalam perjalan perjuangan bangsa hingga kemerdekaan diraih.
Santri tidak pernah menuntut pengakuan diri, apalagi ingin dipuji dan dianggap sebagai seorang pahlawan. Namun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah sepantasnya negara memberikan apresiasi kepada semua elemen bangsa yang turut berjuang merebut kemerdekaan dan kemudian mempertahankannya. Apresiasi itu antara lain dengan pengakuan sejarah atas apa yang pernah terjadi dan memperingatinya secara resmi.
Santri, bersama dengan kiai dan ulama, menjadi salah satu elemen bangsa yang turut serta dalam sejarah perjuangan bangsa. Peringatan Hari Santri, bukan sekedar berarti meminta hak kepada pemerintah atas apa yang sudah dilakukan santri dan para kiainya. Namun lebih dari itu, yakni pengakuan atas santri itu sendiri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka mempunyai peran dan andil yang tidak kecil bagi bangsa ini.
Santri yang dimaksud di sini adalah seseorang yang menimba ilmu di pondok pesantren di bawah bimbingan dan pengasuhan kiai. Berbeda dengan istilah yang digunakan Clifford Geertz dalam bukunya Agama Jawa, Abangan, Santri, Priyayi. Sementara santri yang dimaksud oleh Clifford Geertz adalah pemeluk Islam yang taat menjalankan syariat Islam, berbeda dengan abangan yang merupakan bukan penganut Islam yang taat. Namun demikian, mereka yang setuju dan berperilaku seperti santri, juga otomatis menjadi santri.
Dengan ditetapkannya Hari Santri menjadi tantangan tersendiri bagi kaum santri yang menimba ilmu di pondok pesantren. Karena selama ini peran dan kiprah santri secara resmi dan kelembagaan belum terlihat mencolok. Namun secara perorangan peran dan kiprah santri di masyarakat tidak perlu dipertanyakan. Mereka langsung terjun di masyarakat setelah lulus dari pesantren, bahkan sebelum lulus pun peran mereka sudah dibutuhkan masyarakat. Khususnya dalam bidang keagamaan, seperti mengisi pengajian, memimpin tahlil, mengimami shalat dan sebagainya.
Tantangan untuk menunjukkan kepada masyarakat dan pemerintah, bahwa santri itu ada. Punya peran dan kiprah nyata, baik kepada pemerintah maupun masyarakat. Di era informasi ini, rasanya tanpa menunjukkan diri dengan kiprahnya di masyarakat secara langsung tidak dianggap keberadaannya. Seolah masyarakat ingin bukti nyata, sejauh mana kiprah santri sekarang. Meskipun hal itu agak tabu bagi santri, karena apa yang dilakukan santri di tengah masyarakat semuanya berlandaskan pengabdian yang ikhlas. Tidak ada unsur riya, pamer dan mengharap imbalan, apalagi pujian.
Karenanya dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional ini, mau tidak mau, lembaga-lembaga yang menaungi santri harus menunjukkan kiprahnya secara nyata di masyarakat. Dan tentu saja harus diekspose dan ditunjukkan pula kepada media massa, bahwa santri bukan hanya sekedar kaum sarungan saja, tapi punya pengabdian kepada masyarakat.
Beberapa hal yang bisa dilakukan, dan patut menjadi pemikiran bagi pondok pesantren adalah adanya Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi santri, merujuk pada KKN ala mahasiswa di perguruan tinggi. Para santri secara tim bukan perorangan, melakukan pengabdian di tengah masyarakat tertentu. Di situ tentunya persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat diharapkan bisa diselesaikan santri, khususnya berkaitan dengan hal-hal keagamaan.
Apa yang menjadi program-program pendidikan di pesantren harus dikenalkan para santrinya kepada masyarakat. Karena tidak semua masyarakat mengenal apa yang diajarkan di pondok pesantren. Padahal ajaran-ajaran di pondok pesantren, sangat penting dan berguna bagi pembangunan masyarakat. Bukan hanya soal keagamaan saja, tetapi juga terkait dengan sosial, ekonomi, kemandirian dan juga toleransi dan kebangsaan. Santri dengan paham tawasuth, tasamuh, tawazun dan i’tidal, menjadi penopang kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. 
Harus menjadi catatan, nasionalisme santri kepada NKRI tidak usah diragukan. Sudah banyak bukti dan kiprah nyata dharma bakti santri kepada bangsa. Mulai dari jaman penjajahan, perjuangan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dan juga mengisi jaman kemerdekaan ini. Bagi santri, NKRI adalah harga mati. Namun sangat disayangkan, dalam buku-buku sejarah perjuangan bangsa tidak pernah disebutkan keterlibatan santri secara langsung.
Kini dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional, peran dan kiprah santri semakin ditunggu dan ditunjukkan kepada masyarakat, bangsa dan negara. Santri tidak hanya berkutat dengan sarung dan kitab kuningnya saja, namun santri juga berperan dalam keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Santri siap memberi kontribusi yang positif untuk kemajuan bangsa. Selamat Hari Santri Nasional. (*)

*Diterbitkan Radar Tegal, 22 Oktober 2015, halaman 2
M Riza Pahlevi, Alumnus Ponpes Salafiyah Kauman Pemalang, Ketua PC Lakpesdam NU Kabupaten Brebes

Komentar

Postingan Populer